Sejarah Terutama Seputar Jawa Kuno mari kita kaji bareng lewat blog ini..untuk mengungkap Dahsyatnya Kearifan Tatanan Budaya dan Kemakmuran Dari Dinasti Lampau..( Sambil Wisata-Belajar SEJARAH)
Minggu, 29 Juli 2012
Rabu, 09 Maret 2011
Penemuan keramik dan kaca kuno di Dieng
YOGYAKARTA (SI) – Tim arkeolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menemukan sejumlah pecahan keramik dan kaca kuno di kompleks Candi Dieng,perbatasan Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
Temuan enam mahasiswa akhir Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM itu menandai sejarah baru dalam dunia arkeologi Indonesia. Penggalian benda bersejarah tersebut menemukan sejumlah pecahan keramik yang diduga buatan zaman Dinasti Tang dari China pada abad kesembilan (IX). ”Sebenarnya kita tengah melakukan pelatihan kepada enam mahasiswa arkeologi di kawasan Candi Dieng, tapi justru menemukan benda-benda kuno ini,” ungkap Ketua Jurusan Arkeologi FIB UGM Prof Inayati Adrisiyani di ruang kerjanya kemarin. Pecahan keramik China dan kaca dari Persia di Dieng itu ditemukan pada 2–11 Juni lalu.
Tim penggalian yang dibimbing oleh dosen sekaligus ketua tim lapangan ekskavasi Dieng, Dr Mahirta, baru pulang ke Yogyakarta Jumat (11/6) malam. Hingga kemarin laboratorium arkeologi FIB UGM terus menganalisis dan mencari tahu usia keramik yang ditemukan. Mahirta menjelaskan, ekskavasi di sekitar kompleks Candi Dieng meliputi tiga lokasi,yakni di dekat tangga masuk Museum Kailasana,di sumur tua,dan di sektor Darmasala.”Dugaan bahwa keramik temuan kita berasal dari abad kesembilan karena mirip dengan keramik-keramik China dari kapal yang karam di perairan Belitung beberapa bulan lalu,” ujarnya.
Sementara satu benda mirip pecahan kaca berwarna biru kehijauan diyakini berasal dari Persia pada abad yang sama.Salah satu dari beberapa temuan itu diyakini merupakan keramik China yang cukup langka bernama Green Splash. Benda tersebut sama seperti yang ditemukan di kapal karam di Teluk Belitung. Sangat dimungkinkan artefak di Dieng itu menjadi temuan tertua sejarah perdagangan antara China-Indonesia dan Persia. Menurut Mahirta, penemuan-penemuan sebelumnya mengenai benda-benda perdagangan kuno masih berkisar pada era zaman Kerajaan Majapahit, yakni abad ke-12 dan ke-13. Penemuan keramik China di Dieng membuktikan bahwa jalur perdagangan antara Indonesia- China dan Persia bukan hanya terjadi di daerah pinggiran pantai, tetapi juga masuk ke pedalaman Nusantara.
Diketahui,posisi Candi Dieng berada di tengah-tengah Pulau Jawa. Menurut Mahirta, hubungan
perdagangan Indonesia-China- Persia pada abad kesembilan dimungkinkan terjadi melalui jalur India, Selat Malaka,Pantai Timur Sumatera, lalu masuk ke Pantai Utara Jawa. Kemudian melalui alur sungai perdagangan masuk ke daerah-daerah pedalaman Pulau Jawa. (moch fauzi:sindo 13 juni 2010)
repost: www.hurahura.wordpress.com
Mata Air Peradaban (peradaban Dieng-Bab I)
Judul: Mata Air Peradaban: Dua Millenium Wonosobo • Penulis: A Kholiq Arif dan Otto Sukatno CR • Penerbit: LKiS, Yogyakarta • Cetakan: I, Agustus 2010 • Tebal: xxvi + 546 halaman • ISBN: 979-25-5331-2
Ikhtiar merumuskan identitas tidak pernah lepas dari ingatan masa silam. Jati diri masyarakat dalam kurun waktu tertentu merupakan hasil dialektika antara tradisi, sejarah, serta tata nilai warisan masa lalu dengan situasi dan problematika kekiniannya. Sejarah menjadi peranti mutlak dalam menggali identitas kultural kebangsaan.
Perbincangan mengenai identitas Nusantara belum rampung. Sebab keremangan sejarah masih berlarut-larut, menimbulkan pelbagai kontroversi dan tafsir yang saling berkontradiksi. Adanya politisasi penulisan sejarah juga masih menjadi momok di dalam mengurai problem identitas ke-indonesia-an mutakhir.
Di tengah ”ketidaktuntasan” sejarah itu, muncul tawaran baru mengenai asal usul peradaban Nusantara. A Kholiq Arif dan Otto Sukatno CR melacak asal mula masyarakat Jawa yang menjadi entitas peradaban besar di Nusantara dengan memusatkan konsentrasi pada warisan sejarah di Dieng, salah satu dataran tinggi di Jawa Tengah.
Indianisasi
Pelacakan awal mula manusia Jawa di dalam buku berjudul Mata Air Peradaban: Dua Millenium Wonosobo ini didasarkan pada sejarah masuknya bangsa India di Nusantara. Satu hal yang menggugah, setelah sekian lama penelusuran tentang manusia Jawa luput dari pembeberan wacana kolonialisme di Indonesia. Selama ini sejarah kontemporer masih membatasi riwayat penjajahan di Indonesia terbatas pada kolonial Portugis, Belanda, dan Jepang.
Migrasi dan mutasi bangsa India pada abad-abad awal Masehi yang lantas berkembang menjadi arus Indianisasi—internalisasi budaya India—di Jawa dianggap sebagai penjajahan bangsa Arya (India) atas pribumi Jawa (hal 200). Klaim ini didasarkan pada pendapat Arnold Toynbee di dalam bukunya, Mankind and Mother Earth: A Narrative History of the World (1976), yang menyatakan bahwa pada abad ke-3 dan ke-4 Masehi peradaban India terus melebarkan sayapnya ke luar batas-batas anak benua hingga nyaris menguasai seluruh daratan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Mengenai persoalan ini, Kholiq dan Sukatno sangat jelas menepis Dennys Lombard yang memandang penjajahan bangsa Arya dengan konotasi klasik dan positif, bahwa migrasi besar-besaran dari orang-orang Keling (India) ke Asia Tenggara, termasuk Jawa, hanya membawa gagasan tentang budaya, agama, perdagangan, dan tidak terjadi penaklukan militer sama sekali. Anggapan Lombard dibantah, sebaliknya semua penjajahan nyaris bersifat memeras dan menindas manusia dan mentalitas pribumi.
Buku ini melakukan tafsir radikal atas mitologi peperangan Ajisaka dengan Dewata Cengkar. Sampai saat ini Ajisaka diyakini sebagai pendatang dari India yang kemudian membuat tonggak sejarah peradaban Jawa dengan kelahiran penanggalan Saka.
Dalam buku ini, justru Ajisaka dikatakan sebagai ”penjajah” yang menyingkirkan Dewata Cengkar, seorang pemimpin masyarakat pribumi Jawa saat itu. Sebagai pihak yang kalah, Dewata Cengkar distigmatisasikan sebagai tokoh yang tidak senonoh, yaitu raksasa jahat yang tergolong jenis jin, setan, atau dedemit. Logika stigmatisasi terhadap pihak yang kalah sangat lazim terjadi di dalam mitologi India, seperti stereotip buruk yang disematkan terhadap Rahwana, yang dikalahkan Rama, sebagai ”buto” atau raksasa yang jahat (hal 228).
Realitas sejarah-politik modern pun sama, menjalankan strategi kuasa dengan memberi stigma-stigma buruk kepada pihak-pihak yang kalah. Kekalahan Dewata Cengkar membuat sebagian masyarakat pribumi menyingkir ke wilayah pedalaman dan goa-goa untuk menyelamatkan diri. Sedangkan penduduk pribumi lainnya berasimilasi dengan Ajisaka (masyarakat pendatang dari India) hingga membentuk ”manusia Jawa baru”.
Poros Nusantara
Dieng adalah kawasan dataran tinggi di bagian tengah Provinsi Jawa Tengah. Secara geografis terbagi menjadi kawasan Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara. Di dataran tinggi Dieng tersebar banyak artefak sejarah yang cukup memadai untuk melacak peradaban Wonosobo, bahkan Nusantara. Sampai kini di Dieng masih berdiri puluhan candi yang disebut sebagai ”Candi Kompleks Dieng”, seperti Candi Arjuna, Candi Bima, Candi Puntadewa, Candi Gatotkaca, Candi Semar, Candi Dwarawati, Candi Sembadra, maupun Candi Srikandi. Juga berbagai prasasti, di antaranya Prasasti Telaga Tanjung, Prasasti Gunung Wule, Prasasti Canggal, dan Prasasti Kedu.
Candi dan prasasti yang ada di kawasan Dieng dianggap sebagai bangunan historis paling awal yang ditemukan di Jawa. ”Peradaban Dieng” telah mengalami sivilisasi dan historisasi masif dan luas hingga membentuk ”mata air” peradaban Nusantara.
Ragam artefak dan prasasti itu menjadi bukti arkeologis hingga posisi Dieng dianggap sebagai ”poros peradaban” Jawa. ”Peradaban Dieng” diduga melahirkan wangsa-wangsa besar yang menguasai Jawa dalam bentuk kerajaan, yakni Wangsa Syailendra dan Sanjaya.
KH Abdurrahman Wahid (almarhum), di dalam pengantarnya berpendapat, pada abad ke-8 orang-orang Sriwijaya (Wangsa Syailendra) mendarat di Pelabuhan Lama Pekalongan, kemudian mendaki Gunung Dieng. Diduga, di daerah yang kini bernama Kabupaten Wonosobo itu mereka menemukan Kerajaan Kalingga. Mereka tak mengganggu orang-orang Kalingga, tetapi terus melanjutkan perjalanan ke arah tenggara hingga sampai di Muntilan, Magelang.
Di daerah inilah mereka mendirikan Candi Borobudur. Dan, sebagian dari mereka yang melanjutkan perjalanan ke selatan (Yogyakarta) mendirikan Kerajaan Kalingga Buddha hingga di abad selanjutnya membangun Candi Prambanan yang menyatukan agama Hindu dan Buddha (hal ix-x). Peta sejarah tersebut, ditafsirkan dalam buku ini, menunjukkan bahwa ”Peradaban Dieng” jalin-berjalin dengan Kerajaan Mataram dan Kerajaan Demak yang menjadi semaian besar peradaban Jawa. Konklusinya, Dieng menjadi poros yang peranannya penting dalam terbentuknya peradaban Nusantara.
Meski semua bukti yang dibeberkan hendak membuktikan validitas sejarah di dalamnya, tetapi di sisi lain buku ini justru ”meragukan” kesahihannya sendiri. Sebagian sumber sejarah yang dinukil berlatar pada mitologi yang kepenuhan kebenarannya tidak bisa dibuktikan. Misalnya mitologi Ajisaka yang masih diragukan fakta sejarahnya secara empirik.
Kiranya khazanah ”Peradaban Dieng” perlu dilacak makin detail dan dalam. Jika kebenaran-kebenaran di dalamnya tidak bisa dibuktikan secara komprehensif, buku ini akan dipandang hanya upaya elaborasi sejarah secara politis untuk mengatrol citra suatu komunitas tertentu.
Meski demikian, paling tidak buku ini merupakan ikhtiar untuk menjangkau hal-hal yang luput dari catatan-ingatan publik. Juga menyadarkan kita akan perlunya menggali identitas lokalitas, bahkan identitas kebangsaan, yang sampai kini belum tuntas.
Musyafak Timur Banua, Pegiat Komunitas Sastra Soeket Teki Semarang
Sumber: kompas.comSabtu, 19 Februari 2011
Puncak Suroloyo,(Negri para DEWA)


Puncak Suroloyo yang merupakan salah satu Obyek wisata di Kabupaten Kulonprogo Provinsi DIY yang memiliki pesona keindahan segaligus wisata yang mengandung banyak mitos dan mistik. Puncak Suroloyo dianggap sebagai tempat tertinggi semasa jaman kerajaan Mataram. Para Dewa diyakini berada di Puncak tertinggi suatu tempat, sehingga Puncak Suroloyo direpresentasikan sebagai kediaman Para Dewa. Sebagian masyarakat Jawa percaya, jika ditarik lurus dari utara ke selatan, kemudian dari barat ke timur di atas pulau jawa, maka akan bertemu di Puncak Suroloyo. Orang Jawa menyebutnya dengan kiblat pancering bumi (pusat dari empat penjuru) tanah jawa. Gunung sumbing dari view Puncak Suroloyo
Puncak Suroloyo merupakan bukit tertinggi di kawasan pegunungan Menoreh yang terletak di Kabupaten Kulonprogo Daerah Istimewau yogyakarta. Tempat ini merupakan salah satu tujuan wisata yang memiliki pemandangan indah nan mempesona. Hal lain yang membuat tempat ini istimewa adalah jika cuaca cerah, biasanya pada pagi hari orang bisa memandang empat gunung besar di Jawa, yaitu Merapi, Merbabu, Sumbing, dan Sindoro. Dari tempat ini juga kemegahan Candi Borobudur yang berada di Magelang juga bisa dilihat dengan jelas.pesona puncak Suroloyo terletak di dusun Keceme, Gerbosari, kecamatan Samigaluh, Kulonprogo. Ada dua jalur untuk bisa mencapai tempat ini yakni jalan Godean – Sentolo – Kalibawang dan dari jalan Magelang – Pasar Muntilan – Kalibawang. Jalur menuju tempat ini cukup sulit karena penuh tanjakan dan berbelok-belok. Namun, udara pegunungan yang sejuk dan pemandangan alam yang luar biasa indahnya akan mengobati.
Sunrise di suroloyo
Menikmati Puncak Suroloyo sebaiknya dilakukan pada saat matahari terbit hingga di bawah pukul 10.00. Pada waktu-waktu tersebut keindahan akan lebih terlihat maksimal terlihat, terlebih jika langit dalam keadaan cerah. Untuk menikmati keindahan Puncak Suroloyo, pengunjung harus berjalan menanjak lebih dari 160 meter, dan melalui undakan anak tangga 286 buah dengan sudut kemiringan antara 30 -60 derajat. Dengan ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan air laut, orang akan termanjakan dengan fasilitas dan tiga buah gardu pandang yang mempunyai nama sendiri-sendiri, yaitu Suroloyo, Sariloyo, dan Kaendran.
Puncak Suroloyo
saat ini telah tampak bukti yang cukup serius dari Dinas Pariwisata Kabupaten Kulonprogo Untuk membenahi Kawasan Puncak Suroloyo yang membuat Puncak Suroloyo semakin terlihat cantik dan indah. Di Kawasan sekitar areal parkir sudah dibangun fasilitas penerangan dengan Tenaga Matahari, sehingga meski listrik PLN padam lampu penerangan tetap berfungsi dengan baik.
Fasilitas menarik lain adalah dibangunnya menara suar di kawasan puncak Suroloyo. Menara suar dilengkapi dengan lampu berkekuatan tinggi yang didesain bisa berotasi 360 derajat sehingga dapat dilihat dari jarak yang jauh dan menambah keindahan puncak suroloyo. Meski pada saat kunjungan ini lampu menara suar di Puncak Suroloyo belum beroperasi tetapi sudah terlihat anggun dan indah. Selain Lampu yang berotasi dilengkapi juga dengan lampu penerangan yang mengarah ke jalan naik Puncak Suroloyo.Banyak pengunjung yang sengaja menyempatkan diri mengunjungi Puncak surolooyo pada dini hari atau menginap untuk melihat keindahan Sunrise di pagi hari. Pada Sore hari tidak kalah banyak pula pengunjung yang datang untuk menanti Sunset dari Puncak Suroloyo. Dengan demikian pengunjung akan lebih nyaman berkunjung ke Puncak suroloyo Pada Malam Hari, atau pada saat gelap
Menara Suar Puncak Suroloyo
Jalan Menuju Puncak Suroloyo dilengkapi Lampu Penerangan
Puncak Sariloyo Sisi Lain Suroloyo
Fasilitas lain yang tidak kalah menarik berada pada puncak Sariloyo, Puncak Sariloyo merupakan sisi lain dari Suroloyo yang letaknya di sebelah Barat Puncak Suroloyo. Di area ini telah dibangun fasilitas Flying Fox yang bisa membangkitkan adrenalin kita. Bermain Flying Fox diantara tebing dan jurang yang cukup dalam di Puncak Suroloyo merupakan tantangan sekaligus memiliki keasyikan tersendiri. Pemandangan ke arah Puncak Suroloyo dari titik ini benar-benar luar biasa. Sangat indah dan mempesona. Selain ke arah puncak Suroloyo pemandangan indah juga dapat dilihat ke arah Samigaluh dan sekitarnya.
Lintasan Flying Fox Dilihat Dari Puncak Sariloyo
Dari sisi insfrastruktur jalan, pihak pemerintah daerah Kulonprogo juga mulai menambah lebar jalan yang menuju kawasan Puncak Suroloyo. Meski belum semua jalan diperlebar tetapi sudah cukup menunjukkan keseriusan Pemkab Kulonprogo menggarap Puncak Suroloyo. Memang sangat sayang jika potensi besar keindahan Suroloyo tidak digarap secara serius, tidak akan banyak orang yang datang dan menyaksikan keindahan Suroloyo. Dengan penambahan beberapa fasilitas dan perbaikan infrastruktur jalan menuju Puncak suroloyo, niscaya akan semakin ramai kawasan ini. Sukses untuk Pemkab Kulonprogo.
Selasa, 25 Januari 2011
Prasasti Ngrawan (Gn.Telomoyo)
Apa itu Prasasti Ngrawan?
ngrawan memiliki banyak makna. salah satunya dapat diartikan rawan. rawan dapat berarti rawan dari bencana tau rawan dari serangan kerjaan asing. jika dilihat kondisi geografinya, pas jika ngrawan berarti rawan karena lokasi itu terletak di kaki gunung telomoyo dan daerahnya juga terjal. penamaan sebuah prasasti bisa karena penemu, nama desa tersebut, informasi dari prasasati tersebut atau peristiwa. keberadaan prasasti ngrawan tidak banyak diketahui oleh masyarakat umum. hal ini diakibatkan karena lokasi yang sulit dijangkau karena akses jalan yang kurang memadai disamping dengan informasi mengenai prasasti ngrawan yang belum mengemuka dikalangan masyarakat sekitar daerah ngablak. namun yang pasti dalam prasasti hanya berisikan simbol-simbol mengenai dewa siwa. kemungkinan tempat ini digunakan sebagai pemujaan kepada dewa siwa. hal ini dapat dilihat dari benda-benda yang ada di sekitarnya seperti lingga yang belum sempurna pengerjaanya, disekitanya juga terdapat benda-benda yang mendukung bahwa daerah itu sebagai daerah pemujaan kepada dewa siwa.
Crop Circle Sleman apakah Jejak UFO
Diduga fenomena Crop Circle di Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Foto:Natsir Kanthil
Selasa, 11 Mei 2010
Canggal sebagai Tonggak Mataram
Yāwadwîpa ini mula-mula diperintah oleh Raja Sanna, yang lama sekali memerintah dengan kebijaksanaan dan kehalusan budi. Setelah Raja Sanna wafat, pecahlah negaranya, kebingungan karena kehilangan perlindungan. Naiklah ke atas tahta kerajaan, Raja Saňjaya, anak Sannāhā (saudara perempuan Sanna), seorang raja yang ahli dalam kitab-kitab suci dan dalam keprajuritan. Ia menaklukkan berbagai daerah di sekitar kerajaannya dan menciptakan ketentraman serta kemakmuran yang dapat dinikmati oleh rakyatnya.
Sanna dan Saňjaya terkenal pula dari Carita Parahyangan, sebuah kitab dari zaman kemudian sekali yang terutama menguraikan sejarah Pasundan. Dalam kitab ini diceritakan bahwa Sanna dikalahkan oleh Purbasora dari Galuh dan menyingkir ke Gunung Merapi. Tetapi, penggantinya, Saňjaya, kemudian menaklukkan Jawa Barat dan kemudian Jawa Timur serta Bali. Pun Malayu dan Keling (dengan rajanya Sang Çriwijaya) diperanginya. Dalam garis besarnya, cerita ini sesuai juga dengan Prasasti Canggal.
Mendirikan sebuah lingga secara khusus adalah lambang mendirikan suatu kerajaan. Bahwa Sanjaya memang dianggap sebagai Wamçakarta dari Kerajaan Matarām, dinyatakan juga dari prasasti-prasasti para raja yang berturut-turut menggantikannya. Di antara prasasti-prasasti itu ada beberapa dari Balitung yang memuat silsilah, dan yang menjadi pangkal silsilah itu adalah Raka i Matarām Sang ratu Saňjaya. Bahkan ada pula prasasti-prasasti yang menggunakan tarikh Saňjaya! Dari kedua kenyataan ini dapatlah jelas betapa besarnya arti Saňjaya itu bagi raja-raja yang kerajaannya berpusat di Jawa Tengah sampai abad X M.
Adapun lingga yang didirikan oleh Saňjaya itu tempatnya ialah di Gunung Wukir di Desa Canggal. Di sini terdapat sisa-sisa sebuah candi induk dengan 3 candi perwara di depannya. Di dalam candi induk ini
tidak terdapatkan lingganya, yang ada ialah sebuah yoni besar sekali dan umumnya yoni itu merupakan landasan bagi sebuah lingga. Di halaman candi inilah Prasasti Canggal itu ditemukan.
Sayang sekali bahwa Candi Gunung Wukir ini yang masih tersisa sangat terlalu sedikit, sehingga tidak dapat diketahui bagaimana bentuk dan wujud yang sebenarnya dari hasil seni bangunan yang tertua itu.
Saňjayawamça dan Çailendrawamça
Kecuali Prasasti Canggal, tidak ada lagi prasasti lain dari Saňjaya. Pun dari keturunannya, sampai pertengahan abad IX M, tidak ada. Yang terdapat sesudah Saňjaya itu adalah prasasti-prasasti dari keluarga raja lain, yaitu Çailendrawamça. Rupa-rupanya keluarga Saňjaya itu terdesak oleh para Çailendra, tetapi masih juga mempunyai kekuasaan di sebagian Jawa Tengah. Bagaimana jalannya pergeseran kekuasaan itu tidak diketahui. Hanyalah nyata bahwa antara keluarga Saňjaya dan keluarga Çailendra ada kerjasama yang erat dalam hal-hal tertentu. Hal ini pertama kali nyata dari prasasti Kalasan.
Prasasti ini ditulis dengan huruf pra-nagari dalam bahasa Sanskrta dan berangka tahun 778 M. Isinya adalah bahwa para Guru sang raja “mustika keluarga Cailendra” (Çailendrawamçatilaka) telah berhasil membujuk Maharaja Tejahpūrņapaņa Paņangkaraņa (di tempat lain dalam prasasti ini disebut Kariyaņa Paņangkaraņa) untuk mendirikan bangunan suci bagi Dewi Tārā dan sebuah biara untuk para pendeta dalam kerajaan keluarga Çailendra. Kemudian Paņangkaraņa itu menghadiahkan desa Kalāça kepada sanggha.
Bangunan yang didirikan ini adalah Candi Kalasan di Desa Kalasan di sebelah timur Yogyakarta. Candi ini sekarang kosong, tetapi memiliki singgasana serta bilik, sehingga arca Tārā yang dahulu bertahta
di sini tentunya besar sekali, dan sangat mungkin terbuat dari perunggu.
Tejahpūrņa Paņangkaraņa (diduga kuat) adalah Rakai Panangkaran, pengganti Saňjaya; seperti nyata dari prasasti Raja Balitung dari tahun 907 M. Prasasti ini bahkan memuat daftar lengkap dari raja-raja yang mendahului Balitung; bunyinya sebagai berikut: “rahyangta rumuhun ri mdang ri poh pitu, rakai matarām sang ratu Saňjaya, çrî mahārāja rakai Panangkaran, çrî mahārāja rakai Panunggalan, çri mahārāja rakai Warak, crî mahārāja rakai Garung, çrî mahārāja rakai Pikatan, çrî mahārāja rakai Kayuwangi, çri mahārāja rakai Watuhumalang”, dan kemudian nama raja yang memerintahkan pembuatan prasasti, yaitu çrî mahārāja rakai Watukura dyah Balitung Dharmodaya Mahāçāmbhu.
Jelaslah bahwa pemerintahan Saňjayawamça berlangsung terus di samping pemerintahan Çailendrawamça. Keluarga Saňjaya beragama Hindu memuja Çiwa dan keluarga Çailendra beragama Buddha aliran Mahayana yang sudah condong ke Tantrayana. Menilik kenyataan bahwa candi-candi dari abad VIII dan IX M yang ada di Jawa Tengah Utara bersifat Hindu, sedangkan yang ada di Jawa Tengah Selatan bersifat Buddha maka daerah kekuasaan keluarga Saňjaya (
diduga kuat) ialah bagian utara Jawa Tengah dan daerah Çailendra adalah bagian selatan Jawa Tengah.
Pada pertengahan abad IX M, kedua wamca itu bersatu dengan perkawinan Rakai Pikatan dan Pramodawardhani, raja puteri dari keluarga Cailendra. Demikianlah maka dapat dikatakan bahwa keluarga Cailendra itu memegang kekuasaan di Jawa Tengah selama kira-kira satu abad (± 750 – 850 M). Dalam masa pemerintahan ini banyak sekali bangunan suci yang didirikan untuk memuliakan agama Buddha. Sudah kita kenal Candi Kalasan untuk memuliakan Dewi Tara, menurut Prasasti Kalaca tahun 778 M. D
ari tahun 782 M ada prasasti lagi dari Kelurak (Prambanan) yang ditulis dengan huruf pra-nagari pula dan berbahasa Sanskrta. Isinya ialah mengenai pembuatan arca Manjucri yang dalam dirinya mengandung Triratna (Buddha, Dharma, dan Sanggha); yang sama pula (maknanya) dengan Trimurti (Brahma, Wisnu, dan Mahecwara/Ciwa). Tampak benar sifat Tantrayana! Rajanya adalah Indra yang mungkin sekali bergelar Cri Sanggramadananjaya. Tidak ada kepastian bangunan suci mana yang didirikan untuk Manjucri itu; mungkin sekali sebuah candi Ciwa tidak jauh di sebelah utara Prambanan.
Salah seorang pengganti Indra adalah Samaratungga. Dalam tahun 824 M (Prasasti Karangtengah, dekat Temanggung) ia mendirikan bangunan suci Wenuwana; mungkin sekali Candi Ngawen di sebelah barat Muntilan. Tanah untuk bangunan suci dan sekitarnya dibebaskan dari pajak (menjadi perdikan) agar dengan demikian penghasilannya dapat diperuntukkan bagi pemeliharaan bangunan suci itu tadi. Janggalnya, sebagaimana di Kalasan, pemberian tanah itu dilakukan oleh seorang raja dari keluarga Sanjaya, yaitu Rakarayan Patapan pu Palar atau Rakai Garung.
Samaratungga digantikan oleh anak perempuannya, Pramodawardhani, yang kawin dengan raja keluarga Sanjaya, Rakai Pikatan, pengganti Rakai Garung. Merteka berdua banyak pula mendirikan bangunan suci. Pramodhawardhani, yang kemudian bergelar Cri Kahulunnan, mendirikan bangunan-bangunan Buddha, dan Pikatan mendirikan bangunan-bangunan Hindu. Di Candi Plaosan yang bersifat Buddha banyak didapatkan pertulisan-pertulisan pendek, di antaranya nama-nama Cri Kahulunnan dan Rakai Pikatan. Sangatlah mungkin bahwa kelompok Candi Plaosan itu didirikan atas nama dan perintah Pramodawardhani itulah. Dalam dua buah prasasti dari tahun 842 M, Cri Kahulunnan meresmikan pemberian tanah dan sawah untuk menjamin berlangsungnya pemeliharaan Kamulan (bangunan suci untuk memuliakan nenek moyang) di Bhumisambhara. Kamulan ini tidaklah lain daripada Borobudur, yang mungkin sekali sudah didirikan oleh Samaratungga dalam tahun 824 M. Hal ini dapat disimpulkan dari penyebutan bangunan Kamulan itu secara samar-samar dengan istilah keagamaan, dalam Prasasti Karangtengah.
Rakai Pikatan sendiri telah pula mendirikan berbagai bangunan suci agama Hindu. Mungkin sekali kelompok Loro Jonggrang di Prambanan berdirinya atas usahanya. Dalam sebuah prasasti dari tahun 856 M yang dikeluarkan oleh Dyah Lokapala atau rakai Kayuwangi, segera setelah rakai Pikatan turun tahta, terdapat uraian tentang kelompok candi agama Ciwa yang sesuai benar dengan keadaan kelompok Candi Loro Jonggrang atau Prambanan. Pun dalam kitab Ramayana, yang diperkirakan dihimpun dalam abad IX M, ada uraian serupa. Dan nama Pikatan memang terpahatkan juga, tergores dengan cat, pada salah satu candi di kelompok tersebut.
Balaputra Raja Criwijaya
Sebuah prasasti dari Nalanda (India), yang berasal dari tahun ± 860 M, menyebutkan hadiah tanah oleh Dewapaladewa (Raja Pala di Benggala) untuk keperluan sebuah biara yang didirikan oleh seorang maharaja di Suwarnadwipa bernama Balaputra. Dinyatakan pula bahwa Balaputra adalah anak dari Samaragrawira dan cucu dari raja Jawa yang menjadi “mustika keluarga Cailendra” bernama Cri Wirawairimathana.
Wirawairimathana adalah gelar yang serupa dengan gelar Raja Dharanindra dari Prasasti Kelurak, sedangkan Samaragrawira artinya sama dengan Samaratungga. Demikianlah maka Balaputra (diduga kuat) adalah adik Pramodawardhani, hanya dari lain ibu.
Dalam tahun 856 M, Balaputra berusaha merebut kekuasaan dari Rakai Pikatan, tetapi gagal. Ia lalu melarikan diri ke Suwarnadwipa dan di sana ia berhasil menaiki tahta Criwijaya. Rupanya tiada bedanya dengan Mataram zaman Panangkaran, Criwijaya juga telah terdesak oleh raja-raja Cailendra dan kmeudian berlangsung terus sebagai negara bagian. Dengan demikian maka Balaputra memang mempunyai hak juga atas tahta Criwijaya. Penjelasan silsialahnya pada Prasasti Nalanda tentunya dimaksudkan sebagai pengesahan tindakannya untuk melangsungkan kekuasaan kelaurga Cailendra, baik di Criwijaya maupun di Jawa Tengah, tempat kini kekuasaan telah beralih ke tangan keluarga Sanjaya.
Soal agama dipakai juga oleh Balaputra untuk memperkuat kedudukannya di Criwijaya dalam menghadapi Mataram yang beragama Ciwa. Maka segera setelah ia berkuasa, ia mencari persahabatan dengan kerajaan agama Buddha yang kuat. Kerajaan ini ia dapati di India, tempat keluarga Raja Pala berkuasa di Benggala. Inilah sebabnya mengapa ia mengusahakan adanya sebuah biara di Nalanda, yang diperuntukkan bagi para jemaah agama Buddha dari Criwijaya.
Keluarga Sanjaya Berkuasa Penuh Lagi
Dalam tahun 856 M, Rakai Pikatan turun tahta, setelah berhasil menghapus kekuasaan keluarga Cailendra di Jawa. Pun kemungkinan timbulnya kembali keluarga ini telah ia cegah, yaitu dengan menggempur Balaputra; yang dari prasasti tahun 856 itu dapat disimpulkan bertahan di bukit Ratu Boko.
Penggantinya, Dyah Lokapala atau Rakai Kayuwangi, ternyata menghadapi berbagai kesulitan yang dialami oleh rakyat Mataram. Kekuasaan Cailendra di jawa Tengah selama tiga perempat abad banyak menghasilkan bangunan suci yang serba megah dan mewah, tetapi sebaliknya sangat melemahkan tenaga rakyat dan penghasilan pertanian. Usaha mengutamakan kebesaran raja kini terasa akibatknya yang menekan penghidupan rakyat.
RakaiKayuwangi memerintah dari 856 sampai 886M, dan dalam prasasti-prasastinya ia menggunakan sebuatan Cri Maharaja dan gelar abhiseka (penobatan raja) Cri Sajjanotsawatungga. Sebutan pertama menunjukkan kebesaran sang raja yang kini menjadi penguasa satu-satunya. Sementara, akhiran “tungga” (= puncak, ujung) dalam nama abhisekanya _ kebiasaan yang hanya dipakai oleh raja Cailendra _ menunjukkan bahwa sang raja berdarah Cailendra pula.Pengganti Rakai Kayuwangi adalah Rakai Watuhumalang yang memerintah dari tahun 886 – 898 M.
Kemudian menyusullah Raja Balitung (Rakai Watukura) yang bergelarCri Icwarakecawotsawatungga, yang memerintah dari tahun 898 sampai 910 M. Prasasti-prasastinya terdapatkan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sehingga dapat disimpulkan ia adalah raja yang pertama yang memerintah kedua bagian pulau Jawa itu. Mungkin sekali kerajaan di Jawa Timur (Kanjuruhan _ Prasasti Dinoyo) telah ia taklukkan, mengingat bahwa di dalam pemerintahan Jawa tengah ada sebuatan Rakaryan Kanuruhan, yaitu salah satu jabatan tinggi langsung di bawah raja. Memang prasasti-prasasti Balitung dari tahun 898 sampai 907 M semuanya didapatkan di Jawa timur, dan salah satu di antaranya menyebutkan serangan ke Bantan (= Bali).
Salah satu prasastinya yang menarik perhatian adalah yang ia keluarkan dalam tahun 907, yait yang memuat silsilahnya sejak Sanjaya. Sementara, mereka-mereka yang memerintah terlebih dahulu itu ia mintai perlindungan.
Raja-raja sesudah Balitung adalah Daksa, yang dalam pemerintahan Balitung telah menjabat Rakryan Mahamantri i Hino (kedudukan tertinggi di bawah raja), dan menjadi raja da
ri 910 hingga 919 M. Lalu, Tulodong dengan gelarnya Rakai Layang Dyah Tulodong Cri Sajanasanmatanuragatunggadewa, dari tahun 919 – 924 M. Kemudian Wawa, dengan gelar Cri Wijayalokanamottungga, dari tahun 924-929 M.
Sejak tahun 929 M, prasasti hanya didapatkan di Jawa Timur dan yang memerintah adalah seorang raja dari keluarga lain, yaitu Siņdok dari Içanawamça. Dengan ini maka habislah riwayat Saňjayawamça, dan juga Jawa Tengah sebagai pusat pemerintahan. Mungkin sekali perpindahan kekuasaan dari keluarga Saňjaya kepada keluarga Içana berlangsung secara damai (perkawinan), tetapi apa sebabnya pusat kerajaan dipindahkan ke Jawa timur tidak dapat diketahui. Ada pendapat bahwa hal ini terjadi karena ancaman-ancaman dari Çriwijaya atau bencana dahsyat.
sumber :Soekmono. 1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Cetakan ke-20. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.Hlm. 39 – 49.
Adapun dimungkinkan jaman mataram kuno telah tatanan kehidupan masyarakat sudah sangat maju dan pesat, hal ini dibuktikan dengan peninggalan candi-candi yang tersebar luas dari wilayah jawa tengah -jogja-jawa timur sehingga memungkinkan perpindahan ibukota kerajaan sampai 7
kali :
- Medang i Bhumi Mataram (zaman Sanjaya)" sekitar jogja-muntilan-sleman"
- Medang i Mamrati (zaman Rakai Pikatan) " sekitar prambanan"
- Medang i Poh Pitu (zama n Dyah Balitung) " Kedu-temanggung"
- Medang i Bhumi Mataram (zaman Dyah Wawa)" sekitar jogja-muntilan-sleman"
- Medang i Tamwlang (zaman Mpu Sindok)' Antara magetan-mediun"
- Medang i Watugaluh (zaman Mpu Sindok)"sekitar jombang"
- Medang i Wwatan (zaman Dharmawangsa Teguh)
Candi umbul tersebut berada di lembah yang subur dikawasan persawahan di desa Kertoharjo dan airnya masih mengalir dengan jernih. Bahkan akhir tahun 2009 ditemukan pula candi yang dimungkinkan adalah kawasan pemukiman yang dibuktikan dengan ditemukan kayu dan fosil padi dikawasan kedu.
Yang masih menyisakan misteri sampai sekarang adalah lokasi Ibukota kerajaan mataram yang bernama Bhumi Mataram kota yang pada masanya amat terkenal sebagai sumber padi dan emas.
Tanah yang kaya raya yang terpendam 6-10 meter material vulkanik, sesuatu yang mengundang decak kagum dan penasaran bagi siapapun yang dapat mengetahuinya.


